Sabar

Beberapa bulan belakangan, begitu banyak ujian datang menerpa tanpa henti. Mungkin dua bulan bukanlah waktu yang lama jika (hanya) dibayangkan. Lucunya, semuanya dihempas secara halus, perlahan, serta bertahap. Sampai kita akhirnya paham (atau tidak) bahwa sabar menjadi satu-satunya jalan yang harus dipilih.

Apa itu sabar? 

Kamu sedang berjalan menaiki tangga. Anak tangga ke 1-20, masih banyak pemandangan yang disuguhkan hingga kamu mampu menikmatinya bahkan sambil bernyanyi. Anak tangga ke 21-40, masih beberapa pemandangan hadir di jendela matamu, kamu masih mampu bernyanyi namun suaramu sudah mulai mengecil. Anak tangga ke 41-60, suaramu mulai parau, pemandangan hanya rumput-rumput dan pohon-pohon (yang kabar baiknya) masih segar dan hijau. Anak tangga ke 61-80, kamu mulai bertanya-tanya mengapa puncak tertinggi belum kunjung terlihat. Anak tangga ke 81-90, pemandangan mulai habis dan pertanyaanmu belum juga terjawab. Anak tangga ke 90-100, pemandanganmu menjadi putih pucat pasi mengikuti irama hati. Anak tangga ke 101-~, kamu menyadari bahwa pertanyaanmu sedang dijawab oleh anak tangga yang masih menjulang sejauh mata memandang.
Saya tidak tahu pasti apakah sudah bersabar atau belum. Yang saya sadari adalah, saya menjadi tidak takut akan ujian yang mungkin datang selanjutnya. Memang apalagi yang harus dilakukan selain dihadapi? Semakin hari (pula) saya semakin tidak mampu mengeluarkan emosi lebih besar. Batin ini menderita kelelahan yang luar biasa.
Kebahagiaan yang masih berlimpah, kesedihan yang terkadang hinggap, serta peluh imaji, semuanya terkungkung di dalam, saya tidak mampu untuk meluapkannya. Tubuhmu seperti dipalu ke dalam tanah, mulutmu disumpal oleh tanah basah. Tuhanku Yang Maha Esa, Hamba bersyukur Kau begitu memperhatikanku dengan saksama. Tidak seperti dialog di film atau sinetron pada umumnya, saya tidak mampu marah-marah sambil menodongkan kalimat, "kesabaran saya sudah habis!".
Bagaimana kalau ternyata batas akhir kesabaran bukan seperti yang sering diucapkan banyak orang?
Bagaimana kalau ternyata batas akhir kesabaran bukanlah sebuah emosi yang meledak-ledak alih-alih telah terpendam?
Bagaimana kalau ternyata batas akhir kesabaran adalah sebuah kondisi di mana emosi seseorang menjadi mati?


Komentar

Postingan Populer