Literasi Hati
Dear, Blog...
Hi again! Kali ini gue kembali mengetik dengan tangan gemetar. Tapi nggak tahu apa yang membuat gentar. Semakin hari, gue merasa kehilangan diri gue sendiri. Entah kehilangan; entah baru mengenal. it feels like "kemana nih gue yang dulu or kok gue jadi gini sih?"Akhir-akhir ini banyak hal yang membuat gue panik mendadak. Paniknya gak wajar. Kalau lagi panik, hidup gue kayak lagi di-dementor-in. You know Dementor? Itu lho, penjaga penjara Azkaban di serial Harry Potter. Kalau ada Dementor, semua bahagia sirna aja gitu, gak tahu kemana. Yang ada cuma kesedihan dan overthinking yang berkepanjangan.
Dan di kepala gue ada monster yang asalnya dari dalam diri gue sendiri. Nggak tahu kenapa bisa ada, tiba-tiba aja. Kerjaannya cuma membuat gue gak percaya diri dan overthinking. Menciptakan situasi di mana gue merasa nggak layak untuk berada di manapun. Merasa tidak berharga dan I need to stop it. Pemicunya sederhana; kekecewaan, perasaan tidak dihargai, kejadian yang membuat trauma, perubahan sesuatu tanpa rencana, perbedaan kehendak tapi gak bisa bersuara, atau sesederhana ujian kehidupan yang datangnya perintilan tapi rombongan. Monster di kepala gue kerap kali meneriaki hal-hal yang gue takutkan.
"Nanti
dia pergi lho, Cha. Kamu sendirian. Tapi, emang harusnya sendirian. Gak punya
siapa-siapa kamu tuh.You should stand by yourself. Jangan bersandar sama orang
lain. Kalo orangnya pergi, kamu jengkang".
"You
don't deserve any kindness from anyone. Just die!"
"Adanya kamu cuma merepotkan banyak pihak. Buat sekadar bahagia aja kamu gak berhak. Orang-orang lebih baik tanpa kamu. Kamu lebih baik gak ada!"
Dan masih banyak lagi. Even
kadang gue bisa berinteraksi, "apaan sih lu, berisik!
Orang gue gak apa-apa. Segini doang tuh sepele. Kuat. Gak apa-apa". Lalu
dijawab, "Ya lu kuat karena ada gue, lu sebenernya lemah, rusak, gak
ada apa-apanya. Sampah!"
Kadang gue merasa seperti orang
gila yang diberisikin sama entah apa. Dan itu melelahkan. Seolah gue gak bisa
berteman sama diri gue sendiri. Kalau udah lelah gitu, nggak jarang gue
membenarkan omongan si Monster. Lalu, yaudah... Repot banget ya hidup gue. Am
fighting my self, padahal katanya Abang Justin, Love yourself.
Ya gitu, melelahkan.
Dear
my monster, should I follow your command?
Tapi, di setiap keluhan yang
gue tulis, gue bercanda sama luka. Gue mengeluh untuk gue tertawai nantinya.
Siapa yang tahu kan kalo gue habis melewatkan apa, sebelum gue menulis setiap
keluhan gue. Siapa yang tahu gue se-stressed out apa? Siapa yang tahu seberapa
keras gue menahan air mata untuk gak usah nangis?
Jadi,
rata-rata postingan keluhan gue; Lucu. At least, untuk gue sendiri.

Komentar
Posting Komentar