Aku Capek
Halo,
Gimana kabar kalian? Hidup kalian berjalan lancar?
Ya, kalau ngomongin hidup, tentunya kita akan menemukan banyak hal baru dan orang-orang baru. Simply karena kita semua berkembang dan berdinamika Dinamika kehidupan merupakan suatu hal yang gak terhindarkan dalam hidup. Ada kalanya kita bahagia, namun ada kalanya pula kita sedih. Dari situ, bisa dibilang setiap orang tentu memiliki masalah hidupnya tersendiri.
Mungkin lo sendiri pernah mengalami masalah yang cukup berat dalam hidup. Rasanya, lo udah melakukan berbagai hal untuk menyelesaikannya. Tapi, tetep aja masalah lo gak kunjung selesai. Malah mungkin yang ada semakin parah. Alhasil, lo bingung harus gimana dan menyerah gitu aja. Hal seperti tentu saja gak seharusnya bisa lo diemin begitu aja. Kenapa? Karena lama-kelamaan bisa mengganggu kesehatan mental serta keseharian.
Ada kalanya mungkin lo bisa menghadapi masalah lo sendirian. Tapi, ada kalanya juga lo membutuhkan bantuan orang lain buat menghadapinya.
Let me tell you my story...
Bingung juga sebenarnya mau mulai cerita dari mana. Ya sudahlah, gue coba tulis saja apa yang ada di pikiran. Kalau terkesan meracau, tidak jelas, maaf yaa.
Jadi, gue mengidap salah satu dari masalah mental. Diagnosisnya apa, gue nggak tahu pasti. Gue nggak melanjutkan terapinya karena satu dan lain hal. Gejalanya adalah selalu merasa tidak berharga, tidak pantas, suasana hati yang cenderung berubah-ubah dengan mudah. Gue juga sering mengalami perubahan mood secara cepat. Tetapi, lebih cenderung ke fase depresi, seperti kesulitan mengatur emosi, sampai rasa sedih yang berlarut-larut dan peristiwa masa lalu yang membuat malu, menyedihkan, terus-menerus berputar di pikiran, tanpa tahu cara menghentikannya. Situasi demikian membuat gue merasa tertekan dalam menjalani kehidupan. Belum lagi ditambah stres yang terus menumpuk tiap waktunya. Dunia terasa seperti mau runtuh. Di karenakan rasa stres yang terus menumpuk tiap waktunya, gue pun merasa tidak mampu menghadapinya lagi. Pertama kali gue terapi di tahun 2018 kalau tidak salah.
Wait, ada baiknya gue ceritakan terlebih dahulu akar permasalahan dari menderitanya masalah mental ini. Akar permasalahan gue adalah keluarga, terutama perlakuan dari kedua orang tua. Nyokap gue cukup dominan di keluarga. Sorry ya, gue gak bisa menceritakan perlakuannya secara spesifik. Singkat cerita, perlakuan nyokap membuat gue mengidap masalah mental ini. Trauma masa kecil akan berpengaruh sampai dewasa itu memang benar adanya, teman-teman. Gue salah satu bukti penderitanya.
Dan yang melelahkan, ketika gue berada di posisi punya masalah dan sulit untuk bercerita kepada siapapun. Bahkan rasanya berkeluh kesah dan mengatakan bahwa sedang tidak baik-baik saja gak sanggup. Cukup diam dan terus menyalahkan keadaan. Tanpa penyelesaian masalah. Kapan mau bangkit?
Belakangan ini gue kembali ke kondisi cemas, takut, dan mudah panik. Pemicunya karena merasa takut sendirian. Hehehe, agak konyol memang. Sendiri? Kok merasa sendirian? Gue gak mau manja, ini mungkin cuma selewat aja. Beberapa kali gue berusaha meyakinkan diri ini bukan depresi, bukan kecemasan, hanya khawatir biasa. Gue gak mau memberikan sugesti diri kalau gue ini depresi lagi. Gue kapok, cuma nangis dan diam aja. Gue mau jadi manusia yang sehat, berfungsi normal. Tapi rasanya sulit sekali. Rasanya cuma pingin terbaring di kamar, menangis, gak makan dan susah tidur. Gue juga punya kecenderungan gak mau merepotkan orang. Kalau gue cerita depresi gue muncul lagi, orang-orang terdekat gue akan khawatir dan mereka akan ekstra direpotkan dengan perasaan-perasaan gue yang kadang gak masuk akal. Tapi kali ini mungkin sudah gak tahan lagi. Gue bingung gimana caranya bercerita dengan nyaman, setiap kali ingin bercerita, rasanya seperti tertahan. Dan kepala gue seperti ditaruh di balok es yang keras. Seluruh pundak gue menegang, rasanya seperti sedang memikul beras bulog yang kalau dimasak rasanya gak enak.
Permasalahan yang tidak pernah selesai
Merasa tak pantas. Perasaan itu yang selalu datang menjadi momok menakutkan setiap harinya. Gue terjaga hingga pagi, suara dari masjid sudah bergema memutar bacaan ayat-ayat suci, saat itu aku baru bisa terpejam. Satu jam kemudian bangun melakukan sembayang, kemudian melanjutkan tidur hingga beberapa jam. Dulu, gue percaya bahwa kegagalan hubungan gue dengan keluarga, hubungan gue dengan seseorang, tidak akan berpengaruh pada diri. Ternyata itu hanya berlaku dalam logika gue saja. Perasaan manusia tak bisa dibohongi walau dengan dalih penggunaan logika dan fakta. Gue masih mempertanyakan apakah sebenarnya gue pantas bersanding dengan seseorang? Apakah masih pantas gue mendapat perlakuan baik dari orang-orang sementara masa lalu gue sendiri cukup kelam?Pertanyaan itu selalu berputar-putar, mengiring kenangan-kenangan lama kembali. Sambil gue teliti bagian mana yang salah dalam keputusan gue atau memang gue tidak pantas?
Kelam. Dalam. Curam. Gue terjatuh dalam pertanyaan-pertanyaan kepantasan diri dan gue bangun kenangan. Gue mengumpat, mengutuk, marah, kecewa, entah pada siapa. Gue menyangka kalau kemarahan ini gue tujukan pada orang-orang yang memilih pergi. Tapi ternyata kemarahan itu sebenarnya tertuju padaku sendiri. Seseorang yang jika gue pikir-pikir memang tak pantas diberi kesempatan lagi, tak pantas untuk dicintai lebih dari apa yang sudah pernah diberikan, tak pantas dikasihani karena nyatanya gue seorang bajingan keji.
Pagi gue habiskan untuk menutup kekurangan jam tidur semalam, siang hingga sore pikiran gue berkelana, malam hari saat semua orang sudah bermimpi gue masih terjaga. Mengutuki diri sendiri atas ketidakpantasan diri dan nasib yang memang tak berpihak. Kemudian bertanya-tanya lagi. Sekali lagi. Gue ulangi lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Apakah memang pantas untuk tetap hidup? Untuk tetap mendapat perhatian dan cinta dari orang-orang lain?
"Aku muak dengan kehidupanku. Semuanya tampak sangat melelahkan, ada begitu banyak penyesalan dalam hidupku. Banyak cerita yang tidak bisa aku sampaikan. Bertahun-tahun berlalu dan aku memilih menyimpannya sendiri. Sesekali aku akan menangis. Aku menangis dengan sakit yang bagiku itu sangat menyiksa. Aku menangis sepanjang malam tanpa ada yang tahu. Esoknya aku akan melakukan aktifitasku. Dan aku hanya mengatakan ‘Baiklah mari bertahan untuk hari ini saja. Aku akan hidup untuk hari ini saja.’ Maka aku hidup untuk hari ini saja. Saat malam tiba aku akan kembali menangisi diriku sendiri, dalam sendu, dalam sunyi, dalam sepi, seorang diri. Maka begitulah caraku selama ini hidup. Saat pagi tiba aku akan mengatakan kembali “Aku hidup untuk hari ini saja.” Hari-hari terus berlalu, sedih dan sakit itu kadang semakin menjadi. Sampai suatu hari sedih dan sakit itu hilang. Kupikir aku sudah sembuh. Yang sebelumnya aku akan menangis setiap malam. Tiba-tiba tangisku berhenti. Isak itu berubah menjadi sunyi.SEPI.Hampa rasanya, aku menjadi asing dengan diriku sendiri. Aku kehilangan diriku sendiri. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar tidak bisa merasakan apa-apa. Aku tidak bisa merasakan sedih, pun aku tidak bisa merasakan senang. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak merasa panik, aku tidak merasa khwatir dan aku tidak merasa sedih. Dan itu justru menggangu hari-hariku.AKU MENJADI TIDAK WARASAku benar benar hilang kendali. Aku kehilangan arah. Aku tahu tidak ada yang bisa mengatasinya kecuali diriku sendiri. Aku tahu hanya aku seorang yang bisa mengendalikannya. Kupikir aku hanya butuh waktu, kupikir aku hanya butuh semacam jeda. Ku pikir semua akan baik-baik saja, bukan begitu? Aku tidak tahu apakah aku masih depresi atau tidak. Apa menurutmu aku semakin parah sekarang?Jangan tanya apapun, aku tidak minat menjawab. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku hanya merasa sesak yang maha dahsyat. Aku ingin menangis sangat".

Komentar
Posting Komentar