Doing it for yourself
Doing it for yourself...
sebenarnya kata-kata itu terdengar sangat biasa dan klise. lakukan hal tersebut untuk dirimu sendiri.
tapi, di era yang sekarang serba show off, either unconsciously or purposefully, kalimat itu menjadi suatu pengingat yang benar-benar kita butuhkan. or at least i do. personally, dulu gue sering sekali terhanyut perasaan-perasaan khawatir akan pendapat orang lain. seakan apa yang gue lakukan, yang gue hasilkan, merupakan produk yang akan dipasarkan. merupakan suatu reality show yang harus memuaskan audience yang ada demi mempertahankan rating.
segala sesuatunya harus dipikirkan terlebih dahulu strateginya bagaimana, baiknya bagaimana. kira-kira yang menyenangkan bagaimana atau kita pakal kata hits sekarang deh, estetik itu yang bagaimana. bahkan sampai kegiatan sehari-hari pun sudah bukan lagi sekadar rutinitas dan spontanitas, tetapi merupakan potential content. konten untuk story di berbagai media sosial, am i rite?
semakin ke sini rasanya semakin manipulatif aja gitu, dibikin-bikin. dan semakin besarnya manipulasi, semakin kecil orisinilitas (obviously), karena gue anaknya ribet banget (ew), hipotesisnya media variabel tersebut memiliki korelasi yang negatif. #shutupalready 😄
the point is that we no longer doing things only for the sake of doing them. gue tanya deh ya, kapan terakhir kali dan seberapa sering kita pergi ke sebuah caffee demi makanannya atau demi quality time yang unexposed di media sosial? again, seberapa sering kita merasa apapun yang kita unggah ke media sosial harus memberikan impresi daripada menunjukkan ekspresi? sehingga kadang kita bisa "takut" (re: duh pengen post sih, tapi keknya ini gak oke buat di-post deh) ketika mau unggah sesuatu? sehingga kadang kita menghitung jumlah impresi yang kita dapatkan dan kemudian either menikmati ekstasi dari banyaknya impresi baik yang diberikan atau meratapi dengan kekecewaan ketika impresi yang diharapkan tidak sesuai dengan realita?
seberapa sering kita memanipulasi banyak hal demi impresi?
jadi, bagaimana? maksudnya media sosial itu berdampak negatif terhadap kehidupan kita? gue pribadi berpendapat fenomena itu sangat wajar terjadi di kehidupan sosial. tanpa eksistensi media sosial pun, one way or another, kecenderungan sikap manipulatif dan pretensi masih akan menjadi isu dalam bentuk lain di tengah kehidupan sosial kita. karena yang menjadi permasalahan bukan media sosialnya, media sosial kan luar biasa networking dan awareness-reach-nya. it literally connects and brings us together almost beyond spaces and time. yang mengkhawatirkan menurut gue adalah siapa yang mengendalikan kontrol. kamu? atau sekumpulan manusia maya? apakah sebuah post beserta impresinya yang memvalidasi eksistensi lo? atau lo memvalidasi diri lo sendiri dan heck idgaf what they say i'm not going to manipulate my life and not certainiy falling for anyone's manipulation either?
walaupun ya gak ada salahnya memanipulasi, itu hak siapapun. really, tapi concern-nya adalah, lama kelamaan kebiasaan memanipulasi ini menjadi suatu kompetisi yang tidak sehat yang melibatkan kehidupan sehari-hari in which, during which, our genuine bonds, relationships, activities.
gue berkali-kali mendengar banyak keluhan orang-orang terdekat gue, sampai kadang mereka bisa kesal sendiri dan iri dengan teman/orang yang mereka jadikan standar hidupnya yang seemingly lebih menarik hidupnya. yang seemingly lebih 'diakui' dan 'divalidasi' eksistensinya. sampai kadang gue berpikir, mungkin apapun yang gue atau mereka upload di media sosial merupakan indikator eksistensi, so we have to always level up, hit that new coffee shop asap. and take a pic of or with that aesthetic corner. kompetisi. invented by no one, yet everyone feels the necessity to join in and strangely thinks they get recognition and validation from joining. sudah bukan media yang didominasi aktivitas sekadar sharing lagi nampaknya. tetapi, setelah menyadari hal ini gue juga tidak bisa serta merta judging people on instagram based on what they post. like, what a hell of a long-brainstorming you caption looks like. or, i bet this is one of a thousand similar pictures in your camera roll. no, ini semua bukan untuk menjadi ajang bashing dan criticizing people. ini semua sifatnya introspeksi diri. sifatnya inward. saving yourself from a lot of shit and lies, and mental destructive manipulation.
honestly, i'm being such a hypocrite if i say i've not been a part of it. yet, sometimes my conscience asks me, "aren't you just tired? it's a, will always be a, non-zero-sum-game." and it's like a wake-up call to look at myself and think...
sekian dari sudut pandang dan pengalaman gue, masih banyak sisi lain yang belum ter-explore dari fenomena ini, tapi setidaknya ada baiknya kita sedikit demi sedikit sadar akan hal-hal seperti ini demi menghindari episode-episode Black Mirror jadi kenyataan. they're scary at.
anyway, sebenarnya gue juga ingin bahas soal betapa menyenangkannya doing things for ourselves, karena gue sedang bereksperimen melakukan hal-hal yang gue inginkan, gue sukai sambil mengevaluasi alasan-alasan gue melakukan hal tersebut (anaknya ribet banget emang). hahaha 😄 it's like, a long lost satisfaction derived from genuinely doing things for the sake of doing it it's becoming a luxury during these days. basically how good it feels not giving a shit on such superficial and unnecessary things. hmm, tapi lain kali deh 🤟.

Komentar
Posting Komentar