Isi Kepala; Bersama Yang Tak Menerima

Hello, welcome back!

Kali ini gue mau menulis yang menurut gue sangat serius. Tulisan ini ditujukan untuk kalian yang sedang menghadapi atau berusaha melewati life crisis alias krisis hidup yang sedang dirasakan oleh kita yang memasuki usia 20-an. Well, 7 Mei kemarin gue genap berusia 23 tahun. Happy birthday to me 😊

Sebenarnya gue bimbang untuk berbagi atau tidak mengenai hal ini, tetapi di sisi lain sebagaimana manusia pada umumnya, gue merasa perlu berbagi. Would you guys read it? Should I blog it? Should I talk 'bout it? Does it matter?

But here we go... (agak panjang, but hey...)

Oh ya, The Retirement of You-nya Pamungkas, itu one of my fav song for now. 
(Ini lagu untuk semua orang yang merayakan pensiunnya ‘seseorang’ yang dahulu pernah menjadi persinggahan tanpa bisa dijadikan tujuan). Selamat merayakan!


Gue rasa kalian tau bahwa tujuan berpacaran konon memang hanya untuk putus. Entah itu putus karena akhirnya menikah atau putus karena hubungannya kandas. Beberapa orang mungkin harus menelan pil pahit karena kisah cinta yang harus selesai ketika tinggal beberapa langkah lagi untuk sah menjadi suami-istri.

“Karena hidup punya banyak rasa”.

Begitulah tagline dari kopi Go*d Day yang mungkin sering or at least pernah, kita baca dan dengar dari pelbagai media massa. Tapi bukan soal kopi yang akan gue ulas, melainkan soal marriage a.k.a pernikahan. (agak jauh bukan keberangkatannya, dari sebuah slogan menjurus ke pernikahan?) Lantas, apa hubungan antara Karena Hidup Punya Banyak Rasa dengan Pernikahan?
Sebagai informasi, gue adalah seorang single, belum pernah menikah dan *belumsempatinstalaplikasiuber*  Tulisan gue di sini adalah murni perspektif gue yang tidak jadi menikah. Kita tahu, bahwa menikah yang paling didambakan setiap orang adalah menikah yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Itulah mengapa kaum-terutama yang sedang berada di “Quarter Life Crisis”, menyadari betapa sakralnya sebuah pernikahan. Begitupun gue tidak terkecuali.

***

Ayah dan Ibu gue tidak jarang beradu argumen dari soal menentukan anak sekolah di mana, rumah dicat warna apa, pilihan capres-cawapres, sampai mana yang lebih dulu ada; ayam atau telur. Banyak aspek diperdebatkan, mereka bukanlah tipe pasangan yang selalu sepaham dan sependapat, sama sekali tidak. Hingga pernah suatu waktu gue mendapati ibu menangis sejadi-jadinya, dan ayah menjadi ayah yang sediam-diamnya. Tidak ada lagi kehangatan. Itu adalah momen di mana gue berpikir, mungkin mereka akan bercerai.

Entah kenapa, gue suka mengamati permasalahan-permasalahan rumah tangga di sekitar gue, tak terkecuali orang tua gue sendiri. Gue belajar dari sana, korelasinya dengan sudut pandang Islam itu gimana. Karena percuma kalo belajar teori tapi kita gak belajar yang ada di lapangan, yakan? Lagi-lagi, manusia cuma bisa berusaha, berdoa, dan bertawakal. Dulu gue berpikir let it flow aja gitu, yaudah nanti waktunya nikah ya nikah, dan gak ada effort apa-apa gitu. Ternyata gak gitu cuy, nikah itu perjalanan seumur hidup, harus jelas kemana arahnya, apa yang seharusnya kita siapkan buat menjalani peran kita. Menikah itu gak soal yang indah-indah aja kayak di drama Korea. For me, nikah itu malah tonggak awal buat memantapkan visi misi kita sebagai seorang hamba. Istilahnya naik level; kewajibannya, ujian-ujiannya, pahalanya. Semua tentu bakalan lebih berat. Iyes lebih berat, coba bayangin aja kalo kita olahraga angkat beban tanpa pernah belajar dan latihan? Auto cedera lu yang ada.


Gue ingat, kemarin malam, selepas hujan mengguyur kotaku, kopiku bilang, "percayalah, di akhir hari, kau akan menyadari bahwa yang kau punya adalah dirimu sendiri. Jaga ia baik-baik".


Dan beberapa waktu lalu, di bulan April,  gue tidak ingat kapan tepatnya, gue kembali merasakan kandasnya hubungan dengan seorang laki-laki yang usianya terpaut 7 tahun. Rencana pernikahan dibicarakan awal tahun lalu, 2019. Dan dijadwalkan di bulan Januari 2020. Tapi sebulan sebelumnya ternyata ada satu moment yang dirasa tidak mendukung jika pernikahan dijadwalkan Januari. Tbh, saat itu gue sedih, mengingat pasangan gue memang sudah sangat ingin menikah. Seserahan, souvenir, bisa dibilang udah complete. Bahan-bahan masakan sudah banyak yang dicicil, vendor paket pernikahan udah dapet, tinggal deal dan transfer uang muka. Gue menangis selama beberapa hari. Sebagai ibu yang melihat anak perempuannya menangis, gue rasa nyokap gue turut bersedih juga. Tapi, ada satu hal pertanyaannya yang cukup menampar gue saat itu, "Mama tanya Icha ya, Icha udah bener-bener yakin belum sama pilihan Icha? Hati Icha udah bener-bener mantap belum untuk menikah?" Pertanyaan itu yang mengantarkan gue kepada pertanyaan baru "is he the one for me?" "do I deserve to him?" "kenapa aku harus menikah?"

In this kind of situation, gue belum menemukan alasan kenapa gue harus menikah. I mean, kenapa manusia harus menikah? Untuk memahami ini, gue sudah bertanya pada banyak orang sekitar gue yang sudah menikah. gue berusaha relevan dengan alasan yang ada, tapi tetap belum berhasil. yang paling sering gue dapat yang beralasan menikah karena... wait, gue bergidik dulu 'cinta'. Well, ini klasik. Gue merasa bahwa ujung dari sebuah relasi berasas cinta tidak harus menikah dan pembuktian cinta tidak harus pernikahan. Lalu, apa? Ya, terserah sih sebenarnya. Gue berpikir kalo seumur hidup mau berpacaran doang atau gak ada status apa-apa tetapi dekat gitu, emang kenapa? Emang kenapa? Memangnya menikah ujung dari segalanya? Bukankah kematian? Kalo cinta tapi gak mau menikah, apakah langsung gugur makna cintanya? Kalo gak berani untuk melamar, it means gak cinta? Really? Katanya menikah untuk hubungan yang lebih serius, lantas pacaran atau tidak ada statusnya dianggap bercanda? Yang serius itu yang nikah doang, begitu? Cinta aja ada level-levelnya.

Yang gue pahami, meyakinkan diri sendiri tidak semudah meyakinkan orang lain perihal pilihannya, tidak semudah menuliskan rencana pada secarik kertas dan tulisan pena.  Ada konsekuensi yang dipertimbangkan dan yakin bisa mengatasinya. Ada jawaban yang harus disiapkan jika nanti ada yang menanyakan bahkan ingin mematahkan argumenmu. Gue tidak yakin semua yang dirancang akan rapi. 

Kembali.... menjelang lamaran, gue merasa ada yang salah dengan hubungan kita. Perselisihan pendapat sering terjadi dan terasa semakin berat. Tak jarang, gue menikmati kesendirian di saat gue dan dia tak saling bicara. Ya, gue cukup menjunjung tinggi me time, jadi gue gunakan moment tersebut saat gue dan dia tidak saling berkabar. Semakin lama gue merasa hubungan kami tidak sehat lagi, alih-alih menyenangkan malah gue merasa seperti beban. Komunikasi gue dan dia yang buruk, gue berbohong berulang kali demi menghindari dia karena saat sendiri gue merasa lebih baik. Lama-lama mulai terlihat posesif, gue seringkali mendapat omelan hanya karena gue berteman dengan laki-laki selain dia, foto di sosmed, sampai dalam hal berpakaian, tidak ada kebebasan yang gue rasakan. Sosmed sering dipantau, seringkali diceramahi, sampai suatu hari dibilang pengikut setan. Ya, se-dajjal itu gue. Semua terjadi beberapa kali dan yang terakhir itu benar-benar bikin capek. Gue udah gak sanggup lagi.
Actually, gue tergolong orang yang emosional. Di saat gue sudah mulai kesulitan meredam emosi, gue selalu meminta dia untuk memberikan waktu untuk gue sendiri dulu. Tapi, sangat disayangkan, yang gue dapat malah spam chat whatsapp yang menyudutkan. Sampai tiba waktunya, dia memutuskan untuk menyerah. Mengucapkan perpisahan dan meminta maaf. 




“Aku berharap kita akan selamanya begini. Hanya diam dan pelan-pelan saling melupakan. Jangan ada satu katapun yang terucap. Karena satu kata darimu hanya akan menggarami luka yang sempat kamu sayat dahulu. Dalam diam, semua kenangan tentang kita akan pelan-pelan terkubur dalam memori”.

Terima kasih telah melepaskanku.

Kita tentu sama-sama tahu, bukan? Jalan mana yang harus dan tak seharusnya kita tempuh. Di sini, akhirnya kunikmati kebebasan yang harusnya masih milikku; yang kuperjuangkan sejak lama.

Terima kasih untuk menjadi yang mengerti.

Kau juga pasti tahu, bukan? Bahwa bukan bunga atau kata-kata puitis yang kuinginkan. Bukan perhatian-perhatian manis yang membuatku overdosis. Bukan juga janji-janji dan rencana rumit soal masa depan. Cukup dengan kau memberi ruang untukku bernapas. Lanjutkan hidup dan perjuanganmu, tanpa perlu membagiku rencana-rencanamu.

Benar. Akulah sumber dari segala sakitmu. Lalu, biarkan aku pergi. Kelak kau akan sehat senantiasa bahagia dengan tanpa adanya aku lagi.





Dari aku, yang tidak lagi mengharapkanmu.

Thank you so much for showing the real you.




Gue percaya, betapa hati bisa berubah secepat itu. Layaknya gue yang semula begitu mengagungkannya, merasa cukup dengan apa adanya dirinya. Tiba-tiba ingin melepaskan semuanya. Ingin memutus satu persatu benang yang terkait. Ingin menghapus segala kemungkinan yang sekiranya membuat gue goyah dalam hal ini. Sekuat apapun gue mencoba mencari titik baik dari segala ini, gue tidak mampu menemukannya lagi. Tidak lagi menemukan alasan baik di balik sikapnya. Entah harus bagaimana, menerimanya lagi tidak akan mudah seperti  biasanya. Terlalu banyak rasa, terlalu banyak cerita, dan terlalu banyak fakta yang berlalu-lalang mengaburkan kewarasan untuk berlogika. Aissshhh 😂 dari awal, ini memang bukan ranah yang kusuka.


Pada akhirnya, banyak pelajaran yang bisa diambil setiap saat, setiap hari, setiap waktu. Selalu ada pengalaman baru dan pelajaran baru tiap waktunya. Selalu, harus terucap Alhamdulillah agar menjadi berkah. Ada satu kemudian benar-benar dipahami dan mencoba dijalani dengan baik. Akan ada masanya seseorang merasa kelelahan, baik fisik maupun psikis. Bahkan keduanya. Kalau sudah begitu, istirahatlah...
Tenangkan badan dan pikiran dari hiruk pikuk dunia. Kamu bukan robot, kamu butuh sumber tenaga baru untuk menerangi diri sendiri juga orang lain. Saat kamu sudah pulih benar, jangan lupa peka terhadap diri. Pilih koping terbaik sesuai dengan situasinya. Karena alat tempur tidak akan selalu sama, bukan? Jangan tunggu kalah untuk bangkit, jangan tunggu menyesal untuk meratapi masa lalu. Kita akan bersyukur pada apa saja yang Allah tunda. Juga pada harapan yang tak menjadi nyata.


Terakhir untuk diri,
Semangat bertemu dengan hari yang baru. Semangat menjadi lebih baik. Semangat untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga.

Kalo katanya Master Kim, "hidup tentang mengubah jalan yang berbeda. Entah kamu menginginkannya atau tidak, kamu harus menghadapi kenyataan yang ada di hadapanmu. Kamu tidak bisa selalu menemukan jawaban yang tepat. Jangan pernah berhenti menanyakan pertanyaan tentang kenapa kita hidup dan untuk apa kita hidup? Begitu kamu berhenti melakukan itu, asmara dalam hidup berakhir. Mengerti?" 


Fyi, akhirnya gue mampu menyelesaikan 20 episode dr. Romantic. Hahaha :D ini gak penting sih, tapi gue suka aktor yang memerankan Master Kim. Hahaha 😍 eh, Kang Dong-Joo juga ganteng :p

Komentar

Postingan Populer