Orang Tuaku Nggak Asik!
Sudah beberapa hari, gue merasa tidak dalam kondisi yang baik, dalam hal ini hati dan pikiran. Gue sedang berbaring dengan jemari yang sibuk mengetik sementara di otak gue, potongan-potongan kenangan kembali muncul. Kenangan yang berkaitan dengan rumah. Ketika kecil, gue sudah terbiasa mendengar teriakan dari kedua orang tua gue, yang berujung pada kaca jendela, pintu rumah. Kemudian berakhir dengan mata Mama yang sembab. Kejadian ini berulang dan banyak variasi. Setelahnya, bokap yang gak pulang beberapa hari. Sementara gue, akan diam kaku, hening yang menyusul terasa memekakan. Sebagai anak, gue terjepit di tengah-tengah.
Sebelumnya, gue bukan sedang membuka aib kedua orang tua gue. No at all. Of course, we have problems. Humans have problems. Then as an adult, you will have real problems with relationship.
Gue lahir dari keluarga yang bisa dikatakan tidak harmonis. Bokap gue menikahi nyokap dengan menyimpan kebohongan, ternyata beliau sudah pernah menikah sebelumnya dan sudah memiliki 2 anak dari pernikahannya yang pertama. Mungkin itu yang menjadikan nyokap gue menjadi tempramental, mudah meluap emosinya. Sementara bokap gue adalah orang yang sering berbohong dan sering selingkuh (I admit it). Seperti sudah menjadi life style-nya.
Gue tidak mempunyai kenangan digendong atau dipeluk Beliau semasa kecil. Gue tidak mempunyai kenangan shalat berjamaah di rumah. Gue tidak banyak memiliki kenangan manis tentang Beliau. Melainkan kenangan yang membuat hati gue pilu. Selama hampir 22 tahun, gue memendam ini semua. Banyak kenyataan yang bahkan sahabat atau teman dekat gue sendiri pun tidak tahu. Ada beberapa kenangan yang masih lekat di ingatan. Gue tidak ingat pasti ketika itu berusia berapa, kejadiannya di sore hari, anak dari bokap (a.k.a kakak tiri) gue saat itu menangis, sebagai anak kecil pada umumnya, gue mengejeknya, "gede-gede nangis. Masa udah gede masih nangis". Berulang kali gue mengatakan itu, hingga membuat emosi bokap gue memuncak, beliau menarik dan membawa gue ke halaman rumah, kemudian menyambit gue dengan sapu lidi. Can't you imagine? Kenangan lainnya, hari itu pembagian report hasil belajar gue di Taman Kanak-Kanak, kemudian pulang dan berniat mengabarkan kalau gue mendapat peringkat. Sesampainya di rumah, bokap gue masih tertidur lalu gue bangunkan beliau, "Icha dapet ranking 1". Tapi, beliau tidak menggubrisnya. Buat gue, ini menyesakkan. Masih banyak kenangan yang memilukan lainnya, gue tidak ingin menceritakan kenangan itu terlalu banyak.
Kembali ke nyokap, dulu setiap kali gue melakukan kesalahan, even itu adalah kesalahan kecil, beliau akan sangat marah luar biasa, mencubit gue dengan cubitan yang sakitnya luar biasa, mengucapkan kata yang kasar yang tidak sepatutnya diucapkan. Gue sangat merasa terluka, perlakuan seperti itu masih gue dapatkan sampai gue SMA. Gue tidak pernah melawan saat kedua orang tua gue sedang marah, karena di kepala gue sudah tertanam, ketika ada orang yang sedang marah, maka sebaiknya diam. Ya, gue diam. Yang gue lakukan hanya menangis, membawa tangisan itu sampai terlelap. Perlakuan tidak enak bukan gue dapatkan dari kedua orang tua gue saja, tetapi nenek dari nyokap dan nenek & kakek dari bokap. Nenek dari nyokap gue selalu menganggap gue adalah cucu durhaka. Gue tidak tau bagaimana beliau bisa labeling gue sebagai cucu durhaka. Mungkin gue tumbuh sebagai anak yang pendiam, cuek. Seringkali nenek gue memusuhi gue. Tapi, gue tidak menyimpan dendam sama sekali, gue sangat sayang nenek gue, walaupun beliau pernah labeling gue sebagai cucu durhaka. Bahkan saat beliau meninggal, hati gue sangat hancur. Karena setidaknya perhatian beliau ke kedua adik gue dan kepada cucu-cucu yang lain sangat baik.
Gue tekankan, gue tidak bermaksud untuk menjelekan keluarga gue, tapi gue hanya ingin bercerita, gue hanya ingin mengungkapkan apa yang selama ini gue pendam dan seringkali membuat gue gelisah tidak karuan. Ada banyak hal yang bisa kalian pelajari setelah membaca tulisan ini. Seperti halnya hidup, tak semua aspek akan selalu sama. Dalam hidup cuma ada perubahan yang konstan, katanya. I grow. Sometimes, many times, when people grow, they can grow closer or they grow apart. It's okay, I think...
Hingga pada akhirnya, pengalaman dari masa kecil gue ini menjadikan gue sering sulit untuk merasa aman pada dunia gue sendiri, menjadikan gue trauma, sulit untuk percaya bahwa akan ada orang yang baik terhadap gue. Honestly, gue pribadi yang sangat sensitif, gue seringkali merasa cemas, minder, useless, self esteem gue yang rendah, gue merasa sulit untuk mengekspresikan emosi, gue takut untuk mengungkapkan kesedihan yang gue rasakan, or sometimes ketika ada suara tinggi dikit aja, gue langsung kaget. Selama ini gue selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tetapi kesedihan dan kekecewaan yang gue pendam sudah mulai menimbulkan rasa tidak nyaman di badan. Gue merasa jiwa gue sudah tidak sehat.
Dan...
Salah satu ketakutan terbesar gue adalah soal pasangan hidup. Gue sangat takut sekali kalo kelak gue memiliki pasangan hidup yang perkataan dan sikapnya kasar, yang tidak paham menghargai pasangannya, yang mudah sekali marah. Gue tidak ingin memiliki pasangan yang ketika gue melakukan kesalahan, dia akan membentak, menghina, bahkan merendahkan gue. Banyak hal yang gue takutkan termasuk perselingkuhan. Bahkan tertanam di kepala gue ketika gue sudah menikah dan mendapati pasangan gue selingkuh, gue tidak akan berpikir panjang lagi untuk mempertahankan pernikahan, I decide to quit. I need to stop and breathe and ask my self: do you really wanna live like this forever?
Believe me, it happened to me. Gue tumbuh menyaksikan pertengkaran dan keributan kedua orang tua gue. Gue takut ketika bokap pulang. Gue selalu berusaha untuk menjadi anak yang manis. Tentang kesalahan-kesalahan yang orang tua gue perbuat di masa lalu, gue mempunyai cara pandang yang berbeda sekarang. Gue menyadari bahwa bokap gue adalah manusia biasa. Orang tua memang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya tetapi kenyatannya hidup tidak selalu seperti itu. Orang tua juga bisa melakukan kesalahan dan kita sebagai anak harus belajar untuk memaafkan mereka. Dan tentu saja hal ini akan lebih mudah jika kita bisa mencintai mereka seperti bagaimana orang tua mencintai anak-anaknya. Tanpa kondisi. Satu hal, kedua orang tua gue adalah orang tua yang baik, hanya saja mereka kurang memahami ilmu parenting.
Sebelumnya, gue bukan sedang membuka aib kedua orang tua gue. No at all. Of course, we have problems. Humans have problems. Then as an adult, you will have real problems with relationship.
Gue lahir dari keluarga yang bisa dikatakan tidak harmonis. Bokap gue menikahi nyokap dengan menyimpan kebohongan, ternyata beliau sudah pernah menikah sebelumnya dan sudah memiliki 2 anak dari pernikahannya yang pertama. Mungkin itu yang menjadikan nyokap gue menjadi tempramental, mudah meluap emosinya. Sementara bokap gue adalah orang yang sering berbohong dan sering selingkuh (I admit it). Seperti sudah menjadi life style-nya.
Gue tidak mempunyai kenangan digendong atau dipeluk Beliau semasa kecil. Gue tidak mempunyai kenangan shalat berjamaah di rumah. Gue tidak banyak memiliki kenangan manis tentang Beliau. Melainkan kenangan yang membuat hati gue pilu. Selama hampir 22 tahun, gue memendam ini semua. Banyak kenyataan yang bahkan sahabat atau teman dekat gue sendiri pun tidak tahu. Ada beberapa kenangan yang masih lekat di ingatan. Gue tidak ingat pasti ketika itu berusia berapa, kejadiannya di sore hari, anak dari bokap (a.k.a kakak tiri) gue saat itu menangis, sebagai anak kecil pada umumnya, gue mengejeknya, "gede-gede nangis. Masa udah gede masih nangis". Berulang kali gue mengatakan itu, hingga membuat emosi bokap gue memuncak, beliau menarik dan membawa gue ke halaman rumah, kemudian menyambit gue dengan sapu lidi. Can't you imagine? Kenangan lainnya, hari itu pembagian report hasil belajar gue di Taman Kanak-Kanak, kemudian pulang dan berniat mengabarkan kalau gue mendapat peringkat. Sesampainya di rumah, bokap gue masih tertidur lalu gue bangunkan beliau, "Icha dapet ranking 1". Tapi, beliau tidak menggubrisnya. Buat gue, ini menyesakkan. Masih banyak kenangan yang memilukan lainnya, gue tidak ingin menceritakan kenangan itu terlalu banyak.
Kembali ke nyokap, dulu setiap kali gue melakukan kesalahan, even itu adalah kesalahan kecil, beliau akan sangat marah luar biasa, mencubit gue dengan cubitan yang sakitnya luar biasa, mengucapkan kata yang kasar yang tidak sepatutnya diucapkan. Gue sangat merasa terluka, perlakuan seperti itu masih gue dapatkan sampai gue SMA. Gue tidak pernah melawan saat kedua orang tua gue sedang marah, karena di kepala gue sudah tertanam, ketika ada orang yang sedang marah, maka sebaiknya diam. Ya, gue diam. Yang gue lakukan hanya menangis, membawa tangisan itu sampai terlelap. Perlakuan tidak enak bukan gue dapatkan dari kedua orang tua gue saja, tetapi nenek dari nyokap dan nenek & kakek dari bokap. Nenek dari nyokap gue selalu menganggap gue adalah cucu durhaka. Gue tidak tau bagaimana beliau bisa labeling gue sebagai cucu durhaka. Mungkin gue tumbuh sebagai anak yang pendiam, cuek. Seringkali nenek gue memusuhi gue. Tapi, gue tidak menyimpan dendam sama sekali, gue sangat sayang nenek gue, walaupun beliau pernah labeling gue sebagai cucu durhaka. Bahkan saat beliau meninggal, hati gue sangat hancur. Karena setidaknya perhatian beliau ke kedua adik gue dan kepada cucu-cucu yang lain sangat baik.
Gue tekankan, gue tidak bermaksud untuk menjelekan keluarga gue, tapi gue hanya ingin bercerita, gue hanya ingin mengungkapkan apa yang selama ini gue pendam dan seringkali membuat gue gelisah tidak karuan. Ada banyak hal yang bisa kalian pelajari setelah membaca tulisan ini. Seperti halnya hidup, tak semua aspek akan selalu sama. Dalam hidup cuma ada perubahan yang konstan, katanya. I grow. Sometimes, many times, when people grow, they can grow closer or they grow apart. It's okay, I think...
Hingga pada akhirnya, pengalaman dari masa kecil gue ini menjadikan gue sering sulit untuk merasa aman pada dunia gue sendiri, menjadikan gue trauma, sulit untuk percaya bahwa akan ada orang yang baik terhadap gue. Honestly, gue pribadi yang sangat sensitif, gue seringkali merasa cemas, minder, useless, self esteem gue yang rendah, gue merasa sulit untuk mengekspresikan emosi, gue takut untuk mengungkapkan kesedihan yang gue rasakan, or sometimes ketika ada suara tinggi dikit aja, gue langsung kaget. Selama ini gue selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tetapi kesedihan dan kekecewaan yang gue pendam sudah mulai menimbulkan rasa tidak nyaman di badan. Gue merasa jiwa gue sudah tidak sehat.
Dan...
Salah satu ketakutan terbesar gue adalah soal pasangan hidup. Gue sangat takut sekali kalo kelak gue memiliki pasangan hidup yang perkataan dan sikapnya kasar, yang tidak paham menghargai pasangannya, yang mudah sekali marah. Gue tidak ingin memiliki pasangan yang ketika gue melakukan kesalahan, dia akan membentak, menghina, bahkan merendahkan gue. Banyak hal yang gue takutkan termasuk perselingkuhan. Bahkan tertanam di kepala gue ketika gue sudah menikah dan mendapati pasangan gue selingkuh, gue tidak akan berpikir panjang lagi untuk mempertahankan pernikahan, I decide to quit. I need to stop and breathe and ask my self: do you really wanna live like this forever?
Believe me, it happened to me. Gue tumbuh menyaksikan pertengkaran dan keributan kedua orang tua gue. Gue takut ketika bokap pulang. Gue selalu berusaha untuk menjadi anak yang manis. Tentang kesalahan-kesalahan yang orang tua gue perbuat di masa lalu, gue mempunyai cara pandang yang berbeda sekarang. Gue menyadari bahwa bokap gue adalah manusia biasa. Orang tua memang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya tetapi kenyatannya hidup tidak selalu seperti itu. Orang tua juga bisa melakukan kesalahan dan kita sebagai anak harus belajar untuk memaafkan mereka. Dan tentu saja hal ini akan lebih mudah jika kita bisa mencintai mereka seperti bagaimana orang tua mencintai anak-anaknya. Tanpa kondisi. Satu hal, kedua orang tua gue adalah orang tua yang baik, hanya saja mereka kurang memahami ilmu parenting.


Komentar
Posting Komentar